surat wasiat

Wasiat Orang Tua, Apakah Wajib Di jalankan?

Dalam menjalani kehidupan sehari hari, orangtua kerap menjadi penentu masa depan dari seorang anak. Bahkan tak jarang, orang tua pun kerap mempersiapkan kehidupan anaknya saat diri mereka sudah tidak ada di dunia lagi atau dapat di katakan meninggal.

Saat meninggal kelak, orang tua dapat membuat surat wasiat sebagai sebuah pernyataan tertulis akan peninggalan yang di tinggalkan baik berupa harta maupun peninggalan lainnya. Jika di dalam surat wasiat tersebut terdapat pembagian harta warisan, maka nantinya anak dari pemilik harta warisan yang tertulis dalam surat wasiat tersebut dapat mengurus surat keterangan ahli waris sebagai keabsahan yang sah di mata hukum sebagai pemilih harta warisan.

Apakah Wasiat Orang Tua Wajib Di Jalankan?

Dalam hukum Islam, wasiat bukan hanya membahas mengenai masalah harta benda. Dalam makna lainnya, surat wasiat juga berkaitan dengan banyak pesan lainnya yang diberikan oleh pendahulu manusia sebelumnya.

Wasiat sendiri juga dapat diartikan sebagai pesan yang disampaikan orang yang telah meninggal dunia saat masa hidupnya. Surat Wasiat sendiri telah dibagi menjadi beberapa kategori.

Yang pertama adalah permintaan orang yang akan meninggal kepada orang-orang yang masih hidup untuk melakukan suatu pekerjaan. Kedua, wasiat bisa pula berbentuk harta benda yang ingin diberikan kepada orang atau pihak tertentu. Lantas apakah wasiat wajib di jalankan. Berikut hukum wasiat dari orang tua kepada anaknya:

Hukum Berwasiat Sunnah

hukum berwasiat dapat menjadi sunah ketika ada orang yang menjelang ajalnya memberikan wasiat kepada kerabat atau bukan pada ahli waris. Selain itu, berwasiat hukumnya bisa menjadi haram apabila yang bersangkutan mewasiatkan hartanya untuk difungsikan atau disalurkan kepada hal-hal yang maksiat.

Hukum Berwasiat Wajib

wasiat hukumnya wajib apabila ada suatu kewajiban (berkaitan dengan hak Allah atau hak manusia lain) yang harus dia laksanakan, sehingga khawatir jika tidak diwasiatkan hal itu tidak disampaikan kepada yang berhak.

Misalnya, zakat yang belum dia keluarkan atau kewajiban berhaji yang belum dia laksanakan. Atau ada titipan yang diamanahkan kepadanya, atau utang yang harus dilunasi, dan sebagainya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *